Rabu, 04 Juli 2007

Good Bye Jakarta (Pemindahan Ibukota Negara, Mungkinkah?)


Rentetan musibah yang melanda negeri ini tak kunjung habisnya mulai dari gempa, tsunami, longsor hingga banjir yang menenggelamkan ibu kota negara Jakarta membuat kita sontak tersadar bahwa negeri tercinta Indonesia yang dikenal dunia sebagai negeri makmur, kaya raya, hasil alam berlimpah laksana zamrud khatulistiwa ternyata menyimpan potensi bencana maha dahsyat di masa mendatang. Sebab negeri ini dikelilingi oleh gunung-gunung api, patahan Bumi atau ring of fire.
Tak kecuali Jakarta kota metropolitan yang berpenduduk lebih dari 14 juta jiwa berada pada posisi berbahaya. Selain ancaman banjir siklus tahunan, juga ada patahan yang terdapat di sepanjang pesisir utara pulau Jawa akan berakibat goncangan mana kala terjadi gempa bumi. Lantas apa upaya pemerintah untuk mengantisipasi semua ini di masa mendatang?
Ada pendapat ekstrim yang menyatakan ibu kota negara harus dipindahkan ke luar pulau Jawa. Bisa jadi pendapat tersebut benar adanya, karena Presiden Bung Karno pernah punya gagasan visioner untuk memindahkan ibu kota negara RI ke luar pulau Jawa tepatnya di Palangkaraya. Palangkaraya dipandang sebagai propinsi yang memiliki letak nan strategis di tengah-tengah Indonesia, terletak di Pulau Kalimantan yang secara geologi berada di posisi paling aman dari semua pulau yang ada di gugusan Nusantara. Sebab pulau Kalimantan tidak dilalui oleh patahan Bumi sehingga tidak akan digoncang gempa bumi apalagi tsunami.
Kualitas hidup di Jakarta cenderung mengalami penurunan. Tingkat pengangguran tinggi, angka kejahatan meningkat, pemukiman kumuh, polusi, sanitasi yang buruk, kualitas pelayanan publik yang rendah, menjadi episentrum flu burung dan area wabah demam berdarah karena kondisi fisik yang buruk tersebut. Saat ini Jakarta menempati urutan ke-35 daftar kota terbaik di Asia, bandingkan dengan Singapura (peringkat 4), Kuala Lumpur (peringkat 9) dan Manila (peringkat 14).
Pemindahan ibu kota Indonesia ke luar Pulau Jawa, apabila dapat dilakukan dengan baik, punya efek positif, baik bagi Jakarta sendiri maupun Indonesia secara keseluruhan. Di masa depan, Indonesia tidak lagi indentik dengan Jawa. Pembangunan tidak hanya berpusat di Pulau Jawa tapi merata ke seluruh wilayah Indonesia. Jakarta tetap dipertahankan sebagai pusat perdagangan dan industri yang bertaraf internasional dan Palangkaraya sebagai pusat pemerintahan Indonesia dalam menggerakkan roda kemajuan Indonesia.
Akur kan?

Tidak ada komentar: